Friday, September 30, 2011

Ilmu Kalam


Latar belakang
            Kemunculan ilmu kalam diawali persoalan politik yang menyangkut peristiwa terbunuhnya Utsman bin affan yang berakhir sampai penolakan Mu’awiyah atas khalifah Ali bin Abi thalib. Kejadian itu sendiri diawali dengan merebaknya wacana ketidakpuasan terhadap pola kepemimpinan Utsman yang dinilai cenderung nepotis serta terlalu lunak terhadap perilaku oknum-oknum pejabat dalam pemerintahannya yang menyimpang, salah satu tokoh yang tidak puas adalah Amr bin Ash, yang pada perkembangannya memobilisasi massa untuk mendemo Khalifah di Madinah, peristiwa itulah yang berbuntut pada pembunuhan Utsman bin Affan di tangan Muhammad bin Abi Bakar anak angkat Ali bin Abi Thalib.

            Ketegangan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib memuncak pada perang siffin dan berakhir dengan keluarnya keputusan tahkim (arbitrase). Sikap Ali bin Abi Thalib yang menerima tipu daya Amr bin Al-ash, utusan dari pihak Mu’awiyah dalam tahkim, sungguhpun disetujui dengan terpaksa dan tidak disetujui oleh sebagian tentara Ali. Karena mereka berkeyakinan peristiwa itu tidak dapat diselesaikian dengan tahkim. Putusan hanya datang dari Allah dengan dasar Al-quran Al-karim. La hukma illa lillah (tidak ada hokum selain hokum dari allah) atau la hukma illa Allah (tidak ada perantara selain Allah) yang menjadi landaran mereka kaum Mu’awiyah. Dan mereka beranggapan Ali bin Abi Thalib telahg berbuat salah sehingga mereka keluar dari barisannya atau sering disebut dengan khawarij yaitu orang yang keluar.
             Di luar pasukan Ali yang membelot, ada sebagian yang tetap mendukungnya atau sering disebut dengan syiah. Akan tetapi menurut Watt, Syi’ah muncul ketika berlangsungnya perang antara Ali dan Mu’awiyah dalam perang siffin. Sebagai respon dari penerimaan Ali atas Tahkim yang ditawarkan Mu’awiyah, pasukan Ali terpecah menjadi dua kelompok. Terpecah menjadi Syi’ah yang mendukung Ali dan Khawarij yang menolak sikap Ali.
Sehingga sejak saat itu bahkan pasca terbunuhnya Ali, umat Islam secara umum dapat dipetakan kedalam tiga kelompok, yaitu:
1.      Mayoritas umat Islam yang menerima kepemimpinan Muawiyah,
2.      Kelompok loyalis Ali yang dikenal sebagai Syiah,
3.      Khawarij., kelompok yang keluar dari Ali.
 Mulanya, firqah-firqah (faksi-faksi) tersebut murni merupakan gerakan politik, tetapi kemudian berkembang memasuki area teologi dan juga fikih. Perdebatan di wilayah teologi itulah yang kemudian melahirkan berbagai aliran pemikiran atau mazhab kalam, sementara perdebatan di wilayah fikih nantinya memunculkan fenomena mazhab fikih dalam sejarah umat Islam.
Awal mula perdebatan Persoalan teologi pada masa pemerintahan Usman dan Ali, pada saat itu terjadi pergolakan-pergolakan politik dikalangan umat Islam. Ajaran agama dicampur adukkan dengan politik yang kemudian dijadikan tameng atas tindakan mereka, Baik bagi kelompok yang menang demi untuk mempertahankan kekuasaannya, maupun kelompok yang kalah untuk menyerang lawan-lawan politiknya. Mazhab-mazhab fikih dan aliran-lairan teologi Islam lahir dari konflik politik yang terjadi di kalangan umat Islam sendiri, yang kemudian memproduksi hadits-hadits palsu dan menyampaikan fatwa-fatwa keberpihakan untuk kepentingan dan mendukung politik masing-masing kelompok.
Pendapat yang muncul pro dan kontra atas terbunuhnya Usman khalifah yang ketiga, misalnya; dari pihak Usman berpendapat bahwa si pembunuh wajib bertanggungjawab atas perbuatan mereka. Tuntutan ini datang dari keluarga terbunuh terutama Muawiyah. Tapi kemudian setelah naik ke tampuk kekuasaan iapun tidak mau bertanggungjawab atas perbuatan dan kezalimannya terhadap lawan-lawan politiknya, dengan alasan bahwa ia naik menjadi penguasa karena kehendak Tuhan, karena itu semua perbuatannya juga merupakan kehendak Tuhan. Sedang dari pihak pembunuh mereka merasa tidak bersalah dan berdosa atas perbuatan mereka, dengan alasan bahwa mereka berpendapat bahwa Usman telah menyalahgunakan kekuasaan yang berada ditangannya dan mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadanya. Karena itu Usman wajib bertanggung jawab atas perbuatannya, dan ia wajib di bunuh.
Pertentangan kedua kelompok ini lahirlah faham Fatalisme dan Freewill atau yang dikenal dengan istilah ilmu kalam, dengan aliran Jabbriyah dan Qadariyah, keterpaksaan dan kehendak bebas. Masing-masing aliran mencari dukungan dari teks-teks al-Qur’an, hadits-hadits dan fatwa-fatwa daripada ulama terdahulu.
Kerangka berfikir aliran-aliran ilmu kalam
            Perbedaan metode berpikir secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu kerangka berfikir rasional dan metode berfikir tradisional. Metode berfikir rasional memiliki prinsip :
  • Hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas dan tegas disebut dalam Alk-Qur’an dan Hadis Nabi, yakni ayat yang qoth’i (teks yang tidak diinterpretasikan lagi kepada arti lain selain secara harfiah),
  • Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat kepada akal.

Adapun metode berfikir tradisional memiliki prinsip-prisip :
  • Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat  yang mengandung arti zhanni (teks yang boleh mengandung arti lain slain arti harfiah),
  • Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat,
  • Memberikan daya yang kecil kepada akal.
Disamping pengkategorian diatas dikenal juga pengkategorian akibat adanya perbedaan kerangka berfikir dalam menyelesaikan persoalan ilmu kalam :
  • Aliran Antroposentris, menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intrakosmos dan impersonal. Berhubungan erat dengan masyarakat kosmos baik secara natural maupun supra natural dalam arti unsur-unsurnya. 
  • Teolog Teosentris, menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat suprakosmos, personal dan ketuhanan. Yang kedua adanya daya yang menjadi potensi perbuatan baik/jahat manusia bias dating sewaktu-waktu dari Tuhan, oleh sebab itu adakala manusia mampu melaksanakan suatu perbuatan tatkala ada daya yang dating padanya.
  • Aliran Konvergensi atau Sintesis, menganggap hakikat realitas transenden bersifat supra sekaligus intrakosmos, personal, dan impersonal, lahut dan nashut, makluk dan Tuhan, sayang dan jahat, lenyap dan abadi, tampak dan abstrak, dan sifat lain yang dikotomik.
  • Aliran Nihilis, menganggap bahwa hakikat realitas transcendental hanyalah ilusi. Paham ini menolak Tuhan yang mutlak tetapi menerima variasi Tuhan kosmos.

Perbandingan antara ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf

1.      Titik persamaan
Ketiganya memiliki kemiripan obyek kajian yaitu masalah ketuhanan. Ilmu kalam obyek kajiannya terletak pada ketuhanan dan segala hal yang berkaitan dengan-Nya. Obyek kajian filsafat terletak pada masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sedang obyek kajian tasawuf terletak pada Tuhan, yakni upaya pendekatan kepada-Nya.
2.      Titik pebedaan
Letak perbedaan antara ketiganya terletak pada metodologinya. Ilmu kalam sebagai ilmu yang menggunakan logika di sanping argumentasi naqliah yang berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran kebenaran, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya. Metode yang dipakai dalam filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran secara rasional. Yaitu dengan menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal dan integral serta universal dan tidak terikat pada apapun kecuali pada logika. Ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio, dititik beratkan pada pengalaman rasa yang sangat sulit untuk dibahasakan dengan anggapan bahwa pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenarannya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambing sehingga sangat interpretative.

No comments:

Post a Comment

 
;