Tuesday, November 29, 2011

PENYELESAIAN KHILAFIYAH DALAM UMAT DARI PERSOALAN HUKUM SYAR'I


Biasanya perkara yang masuk kategori khilafiyah adalah masalah furu' atau cabang-cabang agama. Adapun masalah pokok, seperti aqidah yang paling dasar, tauhid yang esensial serta konsep ketuhanan yang fundamental, tidak pernah terjadi perbedaan pendapat. Demikian juga dengan kerangka dasar ibadah, umumnya para 'ulama sepakat. Ketidak-sepakatan baru muncul manakala mereka mulai memasuki wilayah teknis dan operational yang tidak prinsipil. Di antara sebab mengapa suatu perkara bisa menjadi masalah yang tidak disepakati hukumnya antara lain:
  1. Adanya ayat yang berbeda satu dengan lainnya secara zhahirnya. Sehingga membutuhkan jalan keluar yang bisa cocok untuk keduanya. Di titik inilah para 'ulama terkadang berbeda dalam mengambil jalan keluar.

  2. Adanya perbedaan penilaian derajat suatu hadits di kalangan ahli hadits. Di mana seorang ahli hadits menilai suatu hadits shahih, namun ahli hadits lainnya menilainy tidak shahih. Sehingga ketika ditarik kesimpulan hukumnya, sangat bergantung dari perbedaan ahli hadits dalam menilainya.
  3. Adanya ayat atau hadits yang menghapus berlakunya ayat atau hadits yang pernah turun sebelumnya. Dalam hal ini sebagaian 'ulama berbeda pendapat untuk menentukan mana yang dihapus dan mana yang tidak dihapus.
  4. Adanya perbedaan 'ulama dalam menetapkan mana ayat yang berlaku mujmal dan mana yang berlaku muqoyyad. Juga dalam menetapkan mana yang bersifat umum ('aam) dan mana yang bersifat khusus (khaash).
  5. Adanya perbedaan 'ulama dalam menggunakan metodologi teknik pengambilan kesimpulan hukum, setelah sumber yang disepakati. Misalnya, ada yang menerima syar'u man qoblana dan ada yang tidak. Ada yang menerima istihsan dan ada juga yang tidak mau memakainya. Dan masih banyak lagi metode lainnya seperti saddan lidzdzri'ah, qoulu shahabi, istishab, qiyas dan lainnya.
Khilafiyah dapat dibagi 3 macam:
  1. Khilafiyah yang sudah jelas salahnya, karena menyelisihi Qur’an dan Sunnah
    Contohnya seperti khilafiyah tentang wajibnya shalat yang sudah disebutkan di atas. Maka khilafiyah yang sudah jelas terdapat dalil shahih dari Qur’an dan Sunnah yang maknanya tidak bisa dita’wil (diselewengkan) kesana-kemari, wajib untuk diingkari. Barangsiapa yang menyelisihi Qur’an dan Sunnah padahal maksudnya sudah jelas, maka sama saja ia meragukan kebenaran Qur’an dan Sunnah dan ini adalah sebuah kekufuran. Maka khilafiyah seperti ini wajib diingkari, tidak boleh ditoleransi sama sekali.
  2. Khilafiyah yang tidak menyelisihi sunnah, namun bisa ditarjih. Kadang ada perbedaan pendapat yang semuanya berdasarkan dalil dari Quran dan Sunnah, namun setelah diteliti oleh para ulama ternyata dalil yang dipakai ada yang kuat dan ada yang lemah. Maka dalam hal ini bisa dilakukan tarjih, yaitu memilah pendapat yang didasari pada dalil2 yang kuat (rajih) saja. Alhamdulillah, para ulama dari sejak dahulu hingga sekarang sangat pernhatian dan serius dalam meneliti riwayat dan derajat hadist serta berhati-hati dalam pengambilan dalil, dan mereka sudah menjelaskannya dalam berbagai kitab-kitabnya. Untuk mengetahui mana pendapat yang kuat dan mana yang lemah kita tinggal mempelajari kitab-kitab mereka -rahimahumullah. Maka dalam hal ini wajib mengingkari pendapat yang lemah dan mengambil pendapat yang lebih rajih (kuat). Bertoleransi kepada orang yang mengamalkan pendapat yang lemah tadi, padahal ia sudah tahu pendapat itu lemah, adalah tercela. Namun kita tetap tidak boleh mencela ulama yang memiliki pendapat lemah. Karena Rasulullah bersabda:Jika seorang hakim memutuskan suatu hukum, kemudian berijtihad maka jika benar ia mendapat dua pahala. Namun jika salah, baginya satu pahala.(HR. Al Bukhori). Namun pendapat lemah nya tetap kita tinggalkan.
  3. Khilafiyah yang tidak menyelisihi Qur’an dan Sunnah, namun tidak bisa ditarjih
    Kadang ada perbedaan pendapat yang semuanya berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah dan semuanya shahih dan kuat, sehingga sulit ditarjih. Maka di sinilah baru berlaku perkataan “Sudahlah jangan saling menyalahkan, ini khan permasalahan khilafiyah. Biarlah dia lakukan apa yang dianggap benar dan kamu lakukan yang kamu anggap benar“. Karena dalam khilafiyah yang seperti ini HARAM mengingkari pendapat yang lain, artinya tidak boleh mencela pendapat yang lain, karena ia berdasarkan dalil yang shahih juga. Kemudian wajib menghargai pendapat yang berbeda, saling bertoleransi dan boleh mengambil salah satu pendapat yang lebih cenderung kepadanya atau boleh juga tidak mengambil sama sekali pendapat-pendapat tersebut.
Ikhwah fillah, bila antum pernah mendengar hadistPerbedaan di kalangan umatku adalah rahmatmaka ketahuilah bahwa ini adalah hadist palsu, baik sanad dan matan(isi)-nya. Dari segi sanad, Syaikh Al Albani rohimahulloh berkata,Hadits ini tidak ada asalnya (anonim).(dalam kitab Silsilah Hadits-hadits Lemah dan Palsu). Dari segi isinya, ini sangat bertentangan dengan banyak dalil bahwa perbedaan dan perselisihan adalah keburukan, bukan rahmat. Ibnu Hazm berkata tentang hadist ini:Ini merupakan perkataan yang paling rusak. Karena jika perbedaan adalah rahmat tentunya persatuan merupakan hal yang dibenci. Ini jelas bukan perkataan seorang muslim. Karena kemungkinan hanya dua, bersatu maka dirahmati Alloh atau berselisih sehingga Alloh murka.(dalaml kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam). Juga Ibnu Masud rodhiyallohuanhu berkata,Sesungguhnya perselisihan itu jelek.(Shohih, riwayat Abu Dawud). Dan Allah juga berfirman:
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.(QS. Ali Imron: 105)
Perbedaan asalnya adalah tercela, maka janganlah kita membiarkannya dengan sikap cuek dan berkata “Sudahlah jangan berselisih“. Seharusnya yang kita lakukan adalah berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi perbedaan yang ada dengan menyatukannya di atas kebenaran, bukan persatuan yang sembarangan, yaitu dengan mengembalikannya kepada Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan ulama yang mutamakkin. Allah SWT berfirman:
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya).(QS. An Nisa`: 59)
   
Islam misalnya menetapkan sejumlah kaidah dan ketentuan:
  1. Dalam konteks nas-nas syariah yang qath'i tsubut dan qath'i dilâlah, seperti al-Quran dan Hadis Mutawatir yang maknanya qath'i, baik dalam masalah akidah maupun hukum syariah, atau ushûl dan furû', tidak boleh ada perbedaan pendapat. Dengan kata lain, berbeda pendapat dalam konteks ini hukumnya haram.
  2. Berbeda pendapat dibolehkan oleh Islam dalam konteks nas-nas syariah yang zhanni, baik dengan qath'i tsubût dengan zhanni dilâlah, seperti al-Quran dan Hadis Mutawatir yang maknanya zhanni, maupun zhanni tsubût dengan qath'i dilâlah, seperti Hadis Ahad yang bermakna qath'i.
  3. Pemultitafsiran (ta'wîl) nas-nas syariah tetap dibolehkan, tetapi harus dalam koridor dilâlah yang ditunjukkan oleh nas serta sesuai dengan kaidah dan metode memahami dan istinbâth yang dibenarkan oleh syariah.
  4. Pandangan yang dihasilkan oleh semua mazhab dianggap benar, dengan catatan tetap mempunyai potensi salah.
  5. Mengikuti pandangan mazhab tersebut tidak dalam kerangka untuk memastikan seratus persen pandangan tersebut benar dan salah, melainkan dalam kerangka tarjîh dan ghalabat zhann. Dengan kata lain, kita mempunyai dugaan kuat, bahwa hukum yang kita ambil dan ikuti dalam masalah tertentu adalah hukum Allah bagi kita, dan juga orang yang menyatakannya, terlepas dari siapa yang menyatakannya. Namun, jika kemudian terbukti salah, hukum itu pun dianggap marjûh dan lemah sehingga ketika itu harus ditinggalkan.

2 comments:

Anonymous said...

ilmu yang bermanfaat
keep posting... :)

Kukuh Dwi Kurniawan said...

sama2... :)

Post a Comment

 
;